Minggu, 20 April 2014

Cerpen

_Teman_

Suasana pagi yang cerah  untuk memulai sebuah aktivitas, ku gerakkan badanku untuk bangun dari tempat tidur, walau mataku masih terasa berat. Ku buka jendela kamarku untuk merasakan sejuknya udara pagi hari.

Hari ini adalah hari minggu, ya di mana aku bisa menyegarkan pikiranku yang penat dari padatnya aktivitasku akhir-akhir ini .Sebenarnya hari ini aku ingin diam saja di rumah untuk beristirahat, sebelum rencanaku gagal gara-gara kemarin aku sudah janji pada teman-temanku untuk pergi bermain, apa boleh buat.

Aktifitas pagi inipun kubuka dengan wajah cukup lesu dan sedikit senang, lesu karena aku tak bisa menghabiskan hari libur ini untuk istirahat, tapi aku juga senang karena hari ini aku dapat membuang semua kepenatanku dengan bermain bersama teman-temanku. Dengan sedikit rasa malas kupaksakan diriku untuk pergi mandi dan sarapan pagi.

Setelah semua kegiatan rumahku beres, sebelum pergi aku telepon dulu Dewi,
“Halo Assalamu’alaikum, Wi jadi kan sekarang kumpul di rumah kamu ?“ kataku saat telpon tersambung.
”Wa’alaikumsalam, iya jadi, cepetan ke sini udah ada Meilia sama Anita di sini “ jawab Dewi.
“Iya tunggu bentar, aku on the way nih“ jawabku sedikit berbohong.
”Siip cepetan ya !!”.
“Iya, udah dulu ya, Assalamu’alaikum” kataku akhirnya,
“Wa’alaikumsalam”.

Setelah kupastikan rencana mainnya jadi,  aku langkahkan kakiku untuk pergi menuju rumah Dewi. Sesampainya di sana, ternyata benar sudah ada dua temanku yang lain, Meilia dan Anita .
Rencananya hari ini kami akan main ke rumah Iko di sempur, kami berangkat dengan wajah sumringah, karena rencananya hari ini kami akan masak ikan yang diambil dari kolam di depan rumah Iko dan makan bersama.  Tapi sayang rencananya batal.
“Ko, kenapa gak jadi masak ikannya ?” tanyaku pada Iko,
“Gak ada yang mancingnya Ya, Ayahku gak ada di rumah” kata iko.
”Kan bisa sama kita mancingnya Ko !” kata Anita.
“Aku bisa mancing kok” ujar Dewi semangat.
” Iya sih ,tapi masalahnya mau mancing pake apa ? Aku gak tau alat pancingannya di mana, ayahku kan gak ada” jawab Iko,
”Oh, ya sudahlah gak apa-apa kalau gak masak ikan, kan masih bisa masak yang lain” kataku akhirnya.
“Iya ,bener tuh, kita masak tahu cincang pake telur aja gimana ?” usul Iko
“Siip, yuk kita masak sekarang !” balas Dewi dan Anita kompak.
 Akhirnya menu ikan goreng kita ganti dengan tahu cincang pakai telur yang bahannya rame-rame kami beli di pasar. Selesai masak, kami lalu makan sama-sama di Gasibu depan rumah Iko.

Entah kapan datangnya, tiba-tiba Rizky sudah ada di rumah Iko,tanpa basa basi dia ikut melahap hidangan yang tersedia. Setelah selesai makan dia mengajak kami untuk main ke tempat terapi ikan, dia bilang sih tempatnya deket rumah dia. Kami setuju dengan usulan Rizky karena memang belum ada rencana kita mau jalan-jalan ke mana.

Tempat terapi ikan yang katanya deket itu, ternyata jauh banget. Rasanya sudah jauh kita jalan, ditambah hujan pula, tapi kita belum sampai juga di tempat terapi ikan itu. Rizky usul untuk melewati jalan pintas, eh ternyata waktu kita ikutin dia, jalan pintasnya itu harus lewat selokan besar dan menyusuri pematang sawah yang cukup luas !!. hujan makin deras ditambah bunyi petir membuat kami takut.
Akhirnya aku tanya Rizky, ”Ky, ngapain lewat jalan sini sih ? inikan sawah, gimana kalau kita tersambar petir coba ?” kataku bernada kesal.
“Gak akan kena petir, tenang aja, bentar lagi juga nyampe kok, jalan sini tuh lebih deket” jawab Rizky.
”Deket dari mana ?, takut kesamber pe…… “ sebelum Anita beres melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba saja aku jatuh, spontan saja seperti ada sesuatu yang mendorong badanaku, ternyata bukan cuma aku, Dewi juga ikut jatuh dan menindih badanku. Seperti latah, teman-temanku yang lain juga ikut terjatuh, tercebur semua ke dalam kubangan lumpur sawah, kecuali Rizky. Lengkap sudah penderitaan kami, kaki pegal karena jalan kaki cukup jauh, baju basah karena hujan-hujanan dan akhirnya badan penuh lumpur ditambah sakit karena jatuh ke sawah, aku lebih parah, karerna tertindih badan Dewi.

Suasana menjadi kacau balau, kami jadi panik dan merasa takut, untung belum sampai depresi. Kami semua nangis karena takut, sementara hujan belum juga reda. Salah satu teman kami berteriak-teriak karena telinganya merasa tertutup sesuatu sehingga pendengarannya terganggu, ada juga yang teriak-teriak bilang gak percaya sama kejadian yang dialami,
“Ini tuh mimpi bukan sih ??... kalau mimpi tolong bangunin aku !”.
“Ha..Ha..Ha…” spontan kami semua tertawa jadinya.
Hari ini sungguh penuh kejadian yang menegangkan sekaligus lucu, dan kami semakin erat bersahabat dengan saling menolong satu sama lain.
“hidup itu emang indah ya”.
Pelajaran yang kudapat dari kejadian hari ini adalah sesama teman itu emang harus saling tolong-menolong. Berteman itu sungguh indah .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar