_Teman_
Suasana
pagi yang cerah untuk memulai sebuah
aktivitas, ku gerakkan badanku untuk bangun dari tempat tidur, walau mataku
masih terasa berat. Ku buka jendela kamarku untuk merasakan sejuknya udara pagi
hari.
Hari
ini adalah hari minggu, ya di mana aku bisa menyegarkan pikiranku yang penat dari
padatnya aktivitasku akhir-akhir ini .Sebenarnya hari ini aku ingin diam saja
di rumah untuk beristirahat, sebelum rencanaku gagal gara-gara kemarin aku
sudah janji pada teman-temanku untuk pergi bermain, apa boleh buat.
Aktifitas
pagi inipun kubuka dengan wajah cukup lesu dan sedikit senang, lesu karena aku
tak bisa menghabiskan hari libur ini untuk istirahat, tapi aku juga senang
karena hari ini aku dapat membuang semua kepenatanku dengan bermain bersama
teman-temanku. Dengan sedikit rasa malas kupaksakan diriku untuk pergi mandi
dan sarapan pagi.
Setelah
semua kegiatan rumahku beres, sebelum pergi aku telepon dulu Dewi,
“Halo
Assalamu’alaikum, Wi jadi kan sekarang kumpul di rumah kamu ?“ kataku saat telpon
tersambung.
”Wa’alaikumsalam,
iya jadi, cepetan ke sini udah ada Meilia sama Anita di sini “ jawab Dewi.
“Iya
tunggu bentar, aku on the way nih“
jawabku sedikit berbohong.
”Siip
cepetan ya !!”.
“Iya,
udah dulu ya, Assalamu’alaikum” kataku akhirnya,
“Wa’alaikumsalam”.
Setelah
kupastikan rencana mainnya jadi, aku langkahkan
kakiku untuk pergi menuju rumah Dewi. Sesampainya di sana, ternyata benar sudah
ada dua temanku yang lain, Meilia dan Anita .
Rencananya
hari ini kami akan main ke rumah Iko di sempur, kami berangkat dengan wajah sumringah,
karena rencananya hari ini kami akan masak ikan yang diambil dari kolam di
depan rumah Iko dan makan bersama. Tapi sayang
rencananya batal.
“Ko,
kenapa gak jadi masak ikannya ?” tanyaku pada Iko,
“Gak
ada yang mancingnya Ya, Ayahku gak ada di rumah” kata iko.
”Kan
bisa sama kita mancingnya Ko !” kata Anita.
“Aku
bisa mancing kok” ujar Dewi semangat.
”
Iya sih ,tapi masalahnya mau mancing pake apa ? Aku gak tau alat pancingannya
di mana, ayahku kan gak ada” jawab Iko,
”Oh,
ya sudahlah gak apa-apa kalau gak masak ikan, kan masih bisa masak yang lain”
kataku akhirnya.
“Iya
,bener tuh, kita masak tahu cincang pake telur aja gimana ?” usul Iko
“Siip,
yuk kita masak sekarang !” balas Dewi dan Anita kompak.
Akhirnya menu ikan goreng kita ganti dengan tahu
cincang pakai telur yang bahannya rame-rame kami beli di pasar. Selesai masak,
kami lalu makan sama-sama di Gasibu depan rumah Iko.
Entah
kapan datangnya, tiba-tiba Rizky sudah ada di rumah Iko,tanpa basa basi dia
ikut melahap hidangan yang tersedia. Setelah selesai makan dia mengajak kami
untuk main ke tempat terapi ikan, dia bilang sih tempatnya deket rumah dia.
Kami setuju dengan usulan Rizky karena memang belum ada rencana kita mau
jalan-jalan ke mana.
Tempat
terapi ikan yang katanya deket itu, ternyata jauh banget. Rasanya sudah jauh
kita jalan, ditambah hujan pula, tapi kita belum sampai juga di tempat terapi
ikan itu. Rizky usul untuk melewati jalan pintas, eh ternyata waktu kita ikutin
dia, jalan pintasnya itu harus lewat selokan besar dan menyusuri pematang sawah
yang cukup luas !!. hujan makin deras ditambah bunyi petir membuat kami takut.
Akhirnya
aku tanya Rizky, ”Ky, ngapain lewat jalan sini sih ? inikan sawah, gimana kalau
kita tersambar petir coba ?” kataku bernada kesal.
“Gak
akan kena petir, tenang aja, bentar lagi juga nyampe kok, jalan sini tuh lebih
deket” jawab Rizky.
”Deket
dari mana ?, takut kesamber pe…… “ sebelum Anita beres melanjutkan kata-katanya,
tiba-tiba saja aku jatuh, spontan saja seperti ada sesuatu yang mendorong badanaku,
ternyata bukan cuma aku, Dewi juga ikut jatuh dan menindih badanku. Seperti
latah, teman-temanku yang lain juga ikut terjatuh, tercebur semua ke dalam
kubangan lumpur sawah, kecuali Rizky. Lengkap sudah penderitaan kami, kaki
pegal karena jalan kaki cukup jauh, baju basah karena hujan-hujanan dan
akhirnya badan penuh lumpur ditambah sakit karena jatuh ke sawah, aku lebih
parah, karerna tertindih badan Dewi.
Suasana
menjadi kacau balau, kami jadi panik dan merasa takut, untung belum sampai
depresi. Kami semua nangis karena takut, sementara hujan belum juga reda. Salah
satu teman kami berteriak-teriak karena telinganya merasa tertutup sesuatu
sehingga pendengarannya terganggu, ada juga yang teriak-teriak bilang gak
percaya sama kejadian yang dialami,
“Ini
tuh mimpi bukan sih ??... kalau mimpi tolong bangunin aku !”.
“Ha..Ha..Ha…”
spontan kami semua tertawa jadinya.
Hari ini
sungguh penuh kejadian yang menegangkan sekaligus lucu, dan kami semakin erat
bersahabat dengan saling menolong satu sama lain.
“hidup itu emang indah ya”.
Pelajaran
yang kudapat dari kejadian hari ini adalah sesama teman itu emang harus saling
tolong-menolong. Berteman itu sungguh indah .